Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia 1. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2015

Sejarah Pendidikan Indonesia


           Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit memberikan informasi tentang pengertian pendidikan serta sejarahnya di Indonesia. Sebelum kita membahas tentang sejarah-sejarah pendidikan di Indonesia, kita harus terlebih dahulu mengetahui pengertian dari pendidikan. Pendidikan adalah usaha / aktifitas mendapatkan ilmu dengan tujuan membina potensi-potensi yang ada pada diri orang tersebut.

          Pendidikan di Indonesia dimulai sejak dini dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) , Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) samapi Perguruan Tinggi. Jenjang pendidikan diatas kita lalui agar kita dapat menggali potensi yang ada didiri kita secara maksimal, sehingga kita dapat mengisi kemerdekaan NKRI.  

Sejarah Pendidikan Indonesia

A.   Kondisi Pendidikan Nasional Pada Masa Portugis
          Karena berkembangnya perdagangan, pada awal abad ke-16 datanglah Portugis ke Indonesia yang kemudian disusul bangsa Spanyol. Selain untuk berdagang, mereka juga menyebarkan agama Nasrani (Khatolik).

          Pada tahun 1536 didirikan sebuah seminarie di Ternate, yang merupakan sekolah agama bagi anak-anak orang terkemuka. Selain pelajaran agama diberikan juga pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Di Solor juga didirikan semacam seminarie dan mempunyai ±50 orang murid, di sekolah ini juga diajarkan bahasa Latin. Pada tahun 1546 di Ambon sudah ada tujuh kampung yang penduduknya beragama Khatolik, ternyata di sana juga diselenggarakan pengajaran untuk rakyat umum.

          Karena sering timbul pemberontakan, maka pada akhir abad-16 habislah kekuasaan Portugis di Indonesia. Ini berarti habis pula riwayat missi Khatolik di Maluku. Missi ini adalah missi negara, artinya para missionaris mendapat jaminan hidup dari negara. Maka jatuhnya negara mengakibatkan hilangnya tenaga missi itu, sehingga usaha-usaha pendidikan terpaksa harus dihentikan.

B.   Kondisi Pendidikan Nasional Pada Masa Belanda
          Dengan berakhirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yakni Belanda. Belanda semula datang ke Indonesia untuk berdagang. Orang Belanda, yang telah bersatu dalam badan perdagangan VOC, menganggap perlu menggantikan agama Khatolik yang telah disebarkan oleh orang Portugis dengan agamanya, yaitu agama Protestan. Untuk keperluan inilah, maka didirikan sekolah-sekolah, terutama di daerah yang dahulu telah dinasranikan oleh Portugis dan Spanyol.

          Sekolah pertama di Jakarta didirikan pada tahun 1617. Lima tahun kemudian sekolah itu mempunyai murid 92 laki-laki dan 45 perempuan. Tujuan dari sekolah ini adalah menghasilkan tenaga-tenaga kerja yang cakap, yang kelak dapat dipekerjakan pada pemerintahan, administrasi dan gereja. Sampai tahun 1786 dipergunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Dalam abad ke-17 dan 18 pendidikan kejuruan tidak diselenggarakan. Inipun tidak mengherankan, kerena pengajaran Kompeni mempunyai dasar keagamaan. Pikiran, bahwa taraf ekonomi masyarakat dapat dinaikkan oleh pendidikan kejuruan, baru muncul dalam abad ke-19.

C.  Tanam Paksa dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Pendidikan di Indonesia
            Dengan diangkatnya Van den Bosch sebagai Gubernur Jenderal kita memasuki masa baru pendidikan di Indonesia. Ia mendapat tugas, agar daerah jajahan disulap menjadi daerah yang memberikan keuntungan yang sebanyak-banyaknya bagi Belanda. Alat untuk mencapai tujuan itu adalah Cultuurstelsel atau tanam paksa.

              Van den Bosch mengerti, bahwa untuk memperbaiki stelsel pembangunan ekonomi (Bagi Belanda) dibutuhkan tenaga-tenaga “ahli” yang banyak. Maka mulai terasa kebutuhan akan sekolah yang harus menghasilkan buruh pegawai. Tetapi karena adanya kesulitan keuangan untuk Indonesia, pendirian sekolah itu terbatas sekali, meskipun hasil tanam paksa terus mengalir ke negeri Belanda dengan derasnya.
             
         Ketika itu karena banyak dibutuhkan tenaga-tenaga rendahan yang paham bahasa Belanda, didirikanlah sekolah istimewa yang mengajarkan bahasa Belanda. Sekolah itu  kita dapati di Ambon, Depok dan Magelang. Di samping itu, di Bandung, Magelang, Probolinggo dan Manado dibuka sekolah untuk anak-anak bangsawan yang dididik untuk menjadi pamong praja Indonesia. Di sekolah-sekolah “menak” itu juga diajarkan bahasa  Belanda. Pada tahun 1892 ada dua macam sekolah rendah, yaitu:
      1. Sekolah Kelas Dua
untuk anak rakyat biasa, lama pendidikan 3 tahun, pelajaran yang diberikan ialah berhitung, menulis dan membaca.
      2. Sekolah Kelas Satu
untuk anak pegawai pemerintahan Hindia Belanda, lama pendidikan pada mulanya 4 tahun, kemudian dijadikan 5 tahun dan akhirnya 7 tahun. Pelajaran yang diberikan ialah ilmu bumi, sejarah, ilmu hayat, menggambar dan ilmu mengukur tanah.

D.  Penyelenggaraan Sekolah-Sekolah Bumiputera Sesudah 1850

              Selama PD I (1914-1918) di Indonesia terasa sekali kekurangan tenaga insinyur. Karena itu atas usaha direksi perkebunan dan perusahaan Belanda, pada tahun 1918 di Bandung didirikan Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch Indie (Lembaga Kerajaan untuk Pengajaran Tinggi Teknik di Hindia Belanda) yang membuka Technische Hooge School (Sekolah Tinggi Teknik).

              Di Jakarta pada tahun 1927 dibuka Geneeskindige Hooge School (Sekolah Dokter) yang pada tahun 1902 sekolah itu bernama School tot Opleiding Voor Inlandsche Artsen (Sekolah Dokter Bumiputera), lama pendidikan 10 tahun. Untuk praktikum maka didirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan CBZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo).

E.   Pergerakkan Kemerdekaan
          Dengan bertambah meluasnya pendidikan di Indonesia pada abad ke-20, timbullah golongan baru dalam masyarakat di Indonesia, yaitu golongan cerdik pandai yang mendapat pendidikan Barat, tapi tidak mendapat tempat maupun perlakuan yang sewajarnya dalam masyarakat kolonial.

          Partai maupun pergerakan-pergerakan yang timbul sesudah tahun 1908 ada yang berdasarkan agama seperti Sarekat Islam, ada yang berdasarkan sosial seperti Muhammadiyah, ada pula yang berazaskan kebangsaan, seperti Indische Partij, yang pertama sekali merumuskan semboyan Indie los van Nederland yang diambil alih PNI dan diterjemahkan menjadi “Indonesia Merdeka” (1928).

F.   Kondisi Pendidikan Nasional Pada Masa Jepang
          Zaman penjajahan Jepang berlangsung pendek (7 Maret 1942 – 17 Agustus 1945). Karena Indonesia dikuasai Jepang di masa perang, segala usaha Jepang ditujukan untuk perang. Murid-murid disuruh bergotong-royong mengumpulkan batu, kerikil dan pasir untuk pertahanan. Pekarangan sekolah ditanami dengan ubi dan sayur-mayur untuk bahan makanan. Murid disuruh menanam pohon jarak untuk menambah minyak untuk kepentingan perang.

G.  Kondisi Pendidikan Nasional Zaman Kemerdekaan, Orde Baru sampai Reformasi
      
      1.    Zaman Kemerdekaan
     Upaya pemerintahan Indonesia di bidang pendidikan awal kemerdekaan ialah mengangkat tokoh pendidik yang telah berjasa pada masa kolonial seperti Ki Hadjar Dewantara, Moh. Syafe’i dari INS, Mr. Suwandi yang mengganti ejaan bahasa Indonesia yang disusun sebelumnya oleh Van Phuysen.   
      2.    Zaman Orde Baru
   Pemerintahan Orde Baru dengan tokoh-tokoh teknokrat dalam pucuk pimpinan pemerintahan melancarkan usaha pembangunan terencana dalam Pelita I sampai Pelita II, III dan seterusnya.
      3.    Zaman Reformasi
     Pada era pemerintahan Habibie yang masih menggunakan kurikulum 1994 yang disempurnakan pada masa pemerintahan Gus Dur. Pada masa pemerintahan Megawati terjadi beberapa perubahan tatanan pendidikan, antara lain: 
a)  Diubahnya kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2000 dan akhirnya  disempurnakan menjadi kurikulum 2002 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang merupakan kurikulum yang berorientasi pada pengembangan 3 aspek utama, antara lain aspek afektif, kognitif dan psikomotorik. 
b)    Pada 8 Juli 2003 disahkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang memberikan dasar hukum untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi, otonomi, keadilan dan menjunjung HAM.
         
     Tujuan pendidikan KTSP:
a)   Untuk pendidikan dasar, di antaranya meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
b)   Untuk pendidikan menengah, meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
c)    Untuk pendidikan menengah kejuruan, meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

Tokoh Pendidikan

A.   Ki Hadjar Dewantara
          Ki Hadjar De­wantara pulang ke Tanah Air pada tahun 1918 setelah menempuh studinya di Belanda. Empat tahun ke­mudian, tokoh yang tak bisa menyelesaikan pendidikan kedokteran di STOVIA ka­rena sakit ini baru bisa mewujudkan semua gaga­sannya tentang dunia pen­didikan dengan men­dirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa pada 3 Juli 1932 di Yogyakarta.

          Perguruan bercorak na­sional ini sangat menekankan rasa kebangsaan agar siswa mencintai bangsa dan tanah air, sehingga tergerak untuk berjuang meraih kemerdekaan. Dari tahun ke tahun, Taman Siswa terus menggeliat. Jum­lah muridnya terus bertam­bah. Artinya, semakin banyak pula rakyat Indonesia yang pikirannya terbuka. Melihat kiprah Ki Hadjar Dewan­tara yang terus berkembang, pemerintah kolo­nial Belanda kembali resah. Jalan pintas diambil: Taman Siswa mesti diberangus. Caranya, dengan mener­bitkan ordonansi sekolah liar pada 1 Oktober 1932. Namun, berkat kegigihan Ki Hadjar Dewan­tara, bukannya Taman Siswa yang bubar, melainkan justru ordo­nansi itulah yang akhirnya dicabut.

          Ketika Jepang masuk menggantikan pemerintahan Hindia Belanda 1942, Ki Hadjar Dewan­tara tak henti berjuang lewat politik dan pendidikan. Bersama beberapa tokoh nasional pada saat itu, Ki Hadjar duduk sebagai salah seorang pimpinan Putera. Dedikasi panjangnya ter­hadap dunia pendidikan me­ngan­tarkan Ki Hadjar menjadi Menteri Pendidikan, Penga­jaran, dan Kebudayaan per­tama setelah Indonesia mer­deka.

          Penyandang gelar doctor honoriscausa dari Universitas Gadjah Mada pada 1957 ini mengenalkan konsep orde en vreden (tertib dan damai), dengan bertumpu pada prinsip pertumbuhan menurut kodrat. Konsep inilah yang kemudian terkenal dengan metode Among, dengan trilogi peran kepemimpinan pendidik, yaitu tut wuri handayani (guru hanya membimbing dari belakang dan mengingatkan jika tindakan siswa membahayakan), ing madya mangun karsa (mem­bangkitkan semangat dan memberikan motivasi), dan ing ngarsa sung tulada (selalu menjadi contoh dalam perilaku dan ucapan).


Sumber :

https://www.academia.edu/3742223/Sejarah_Pendidikan_Indonesia

Jumat, 21 November 2014

Kalimat Efektif



A.   Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.

B.    Ciri-ciri kalimat efektif:
     1.  Kesepadanan
          Suatu kalimat efektif harus memenuhi unsur gramatikal yaitu subjek, predikat, objek dan
          keterangan. Di dalam kalimat efektif harus memiliki keseimbangan dalam pemakaian struktur
          bahasa.

          2.     Kecermatan dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata
         Dalam membuat kalimat efektif jangan sampai menjadi kalimat yang ambigu (menimbulkan
         tafsiran ganda)

          3.     Kehematan
         Kehematan dalam kalimat efektif maksudnya adalah hemat dalam mempergunakan kata, frasa
         atau bentuk lain yang di anggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

          4.     Kelogisan
              Bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan ejaan
              yang berlaku.

          5.    Kesatuan atau Kepaduan
         Maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi yang
         disampaikannya tidak terpecah-pecah.

    6.     Keparalelan atau Kesejajaran
              Kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu.

       



      Sumber :
      http://dayintapinasthika.wordpress.com/2013/01/02/contoh-kalimat-efektif-dan-kalimat-tidak-efektif/

Kamis, 20 November 2014

Pengembangan Alinea

A.   Pengertian Paragraf

            Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraph, yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan(gagasan tunggal).Kepaduan berarti seluruh kalimat dalam paragraf itu kompak, saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.
           
B.    Syarat Paragraf
      Paragraf yang efektif harus memenuhi dua syarat ,yaitu :
·         Kesatuan paragraf
·         Kepaduan paragraf

C.   Jenis Paragraf
1.     Paragraf Deduksi
        Deduksi berarti berfikir dari umum ke khusus. Paragraf ini penempatan kalimat topiknya selalu
     diawal.

2.     Paragraf Induksi
     Paragraf yang pengembangannya dimulai dari pemaparan bagian-bagian kecil atau hal-hal yang konkret hingga sampai kepada suatu simpulan yang bersifat umum disebut paragraf induksi. Induksi berarti cara berfiikir dari khusus ke yang umum. Pada paragraf seperti ini penempatan kalimat topiknya berada diakhir paragraf.

3.     Paragraf Campuran
     Dalam paragraf campuran penempatan kalimat topiknya di tengah paragraf. Paragraf ini di mulai oleh kalimat pengembang setelah kalimat atau kata transisi kalau ada. Setelah itu, kalimat topik di kembangkan lagi dan diakhiri oleh kalimat penegas kalau diperlukan.

4.     Paragraf Perbandingan
     Pengembangan Paragraf perbandingan dilakukan dengan cara membanding-bandingkan kalimat topik. Misalnya, kalimat topik mengenai hal yang bersifat abstrak dibandingkan dengan hal yang bersifat konkret dengan cara merinci perbandingan tersebut dalam bentuk yang konkret atau bagian bagian kecil.

5.     Paragraf Pertanyaan
   Kalimat topik dalam paragraf pertanyaan berbentuk kalimat tanya dan kalimat-kalimat      pengembangan dalam paragraf jenis ini juga biasa merupakan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.

6.     Paragraf Sebab-Akibat
     Kalimat topik paragraf sebab-akibat merupakan sebab atau akibat peristiwa-peristiwa atau sifat objek yang dipaparkan dalam kalimat pengembang. Jika kalimat topiknya berupa sebab maka kalimat pengembangnya harus merupakan akibat dari sebab itu. Sebaliknya jika kalimat topiknya berupa akibat, kalimat pengembangnya harus merupakan sebab-sebab dari akibat itu.

7.     Paragraf Contoh
    Paragraf contoh adalah pengembangan kalimat topik dalam sebuah paragraf dengan menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh itu dipakai untuk memperjelas maksud dalam kalimat topik.

8.     Paragraf Perulangan
     Pengembangan paragraf perulangan dilakukan dengan cara mengulang kata atau     kelompok kata. Pengembangan paragraf perulangan juga bisa dilakukan dengan cara mengulang bagian-bagian kalimat yang penting.

9.     Paragraf Definisi
  Dalam paragraf definisi kalimat topiknya merupakan sesuatu pengertian atau istilah yang memerlukan penjelasan secara panjang lebar agar maknanya mudah dipahami oleh pembaca. Alat untuk memperjelas pengertian itu ialah kalimat pengembang.

10.  Paragraf Deskriptif
     Kalimat topik dalam paragraf deskriptif tidak tersurat seperti pada paragraf-paragraf yang lain. Kalimat topik paragraf ini tersirat pada semua kalimat pengembang. Kita akan mengetahui kallimat topik setelah selesai membaca paragraf karena kalimat topik paragraf deskriptif merupakan simpulan semua paparan dalam paragraf.


D.   Pengembangan Paragraf

            Metode pengembangan paragraf akan bergantung pada sifat informasi yang akan disampaikan,yaitu: persuasive, argumentatif, naratif, deskriptif, dan eksposisi. Metode tersebut sudah pasti digunakan untuk mengembangkan alinea argumentatif, misalnya akan berbeda dengan naratif.

·         Metode Definisi
Yang dimaksud dengan definisi adalah usaha penulis untuk menerangkan pengertian/ konsep istilah tertentu.
·         Metode Proses
Sebuah paragraf dikatakan memakai metode proses apabila isi alinea menguraikan suatu proses. Proses ini merupakan suatu urutan tindakan atau perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu.
·         Metode Contoh
Dalam karangan ilmiah, contoh dan ilustrsi selalu ditampilkan. Contoh-contoh terurai, lebih-lebih yang memerlukan penjelasan rinci tentu harus disusun berbentuk paragraf.
·         Metode Sebab-Akibat
Metode sebab-akibat atau akibat-sebab (kausalitas) dipakai untuk menerangkan suatu kejadian dan akibat yang ditimbulkannya, atau sebaliknya. Artinya, hubungan kejadian dan penyebabnya harus terungkap jelas dan informasinya sesuai dengan jalan pikiran manusia.
·         Metode Umum-Khusus
Metode umum-khususnya dan khusus-umum paling banyak dipakai untuk mengembangkan gagasan paragraf agar tampak teratur.
·         Metode Klasifikasi
Bila kita akan mengelompokan benda-benda atau non benda yang memiliki persamaan ciri seperi sifat, bentuk, ukuran, dan lain-lain, cara yang paling tepat adalah dengan metode klasifikasi. Klasifikasi sebenarnya bukan khusus untuk persamaan factor tersebut di atas, tetapi juga untuk perbedaan.

E.    Teknik Pemaparan
            Paragraf menurut teknik pemaparannya dapat dibagi dalam empat macam, yaitu deskriptif, ekspositoris, agumentatif, dan naratif.
a)    Deskriptif
Paragraf deskriptif disebut juga paragraf melukiskan (lukisan). Paragraf ini melukiskan apa yang terlihat di depan mata. Jadi, paragraf ini bersifat tata ruang atau tata letak.
b)    Ekspositoris
Paragraf Ekspositoris disebut juga paragraf paparan. Paragraf ini menampilkan suatu objek. Tertuju pada satu unsur saja. Penyampainnya dapat menggunakan perkembangan analisis atau keruangan.
c)     Argumentatif
Paragraf argumentatif sebenarnya dapat dimasukkan ke dalam ekspositoris. Paragraf argumentatif disebut juga persuasi. Paragraf ini lebih brsifat membujuk atau menyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis.
d)    Naratif
Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi haya kita temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.


Contoh Paragraf Deskriptif :
        Meja yang dibelikan bapak untuk Budi sebagai hadiah ulang tahun sudah sampai. Meja itu terbuat dari kayu jati. Meja itu tingginya kurang lebih 75 cm lebarnya sekirar 50 cm dengan panjang 1,5 meter. Meja bewarna coklat muda ini terlihat sangat cocok dengan ruang belajar Budi yang sedikit gelap. Meja ini punya 2 lemari yang 1 sebelah kiri dan yang satunya sebelah kanan. Dengan adanya penyangga kaki membuat meja ini nyaman digunakan untuk belajar.



Sumber :

EYD


Pengertian Ejaan

            Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca.

Ejaan Yang Disempurnakan
A.    Penggunaan Huruf
1.    Huruf dan Namanya
          Abjad Latin yang digunakan terdiri dari 26 buah huruf. Huruf
          a, i, u, e, o disebut huruf vocal. Huruf lainnya, yaitu b, c, d, f,
          g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z disebut huruf
          konsonan.

2.    Penggunaan Huruf Vokal
Huruf (e) digunakan untuk melambangkan fonem /e/ dan /e`/; huruf (i) untuk melambangkan fonem /i/ dan /y/; dan huruf (u) digunakan untuk melambangkan fonem /u/ dan /w/. Karena fonem /y/ dilambangkan juga dengan huruf (i) dan fonem /w/ dilambangkan juga dengan huruf (u), maka rangkaian vokal ai dan au pada kata-kata seperti ramai dan pulau sering disebut orang dengan istilah vokal rangkap atau diftong.

3.    Penggunaan Huruf Konsonan
      Huruf-huruf konsonan digunakan untuk melambangkan
      fonem-fonem konsonan.

4.    Penggunaan Huruf Kapital
          Huruf besar atau huruf capital digunakan :
   ·   Sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
   ·   Sebagai huruf pertama kata yang berkenaan dengan
       agama, kitab suci dan nama Tuhan termasuk kata
       gantinya.
   ·   Sebagai huruf pertama kata pada petikan langsung.
   ·   Sebagai huruf pertama kata yang menyatakan gelar
       kehormatan, gelar keagamaan, gelar keturunan, yang
       diikuti dengan nama orang.
   ·   Sebagai huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang
       diikuti nama orang.

5.    Penggunaan Huruf Kecil
            Huruf kecil digunakan pada posisi-posisi yang tidak menggunakan huruf besar.

6.    Penggunaan Huruf Miring
            Huruf miring digunakan dalam cetakan. Dalam tulisan tangan atau ketikan yang      akan dicetak miring, diberi garis bawah tunggal. Huruf miring digunakan untuk:
·  Menuliskan nama buku, nama majalah, nama surat kabar, yang dikutip dalam karangan.
·  Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.

7.    Penggunaan Huruf Tebal
Huruf tebal berfungsi untuk menandai kata-kata yang dianggap penting, atau perlu mendapat perhatian, seperti kata kepala (entri) di dalam kamus dan ensiklopedia, subjudul di dalam karangan dan sebagainya.

B.     Penulisan Kata

1.    Penulisan Kata Dasar
Kata dasar, yaitu kata yang belum diberi imbuhan atau belum mengalami proses morfologi lainnya, ditulis sebagai satu kesatuan, terlepas dari kesatuan yang lainnya.

2.    Penulisan Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan, yaitu kata yang dibentuk dari kata dasar atau bentuk dasar dengan imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) ditulis dengan aturan seperti berikut:
· Imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya sebagai kesatuan.
·  Kalau bentuk dasarnya adalah gabungan kata, maka awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya atau mendahuluinya.

3.    Penulisan Kata Gabung
Kata gabung atau gabungan kata adalah bentuk yang terdiri dari dua buat kata atau lebih. Aturan penulisannya adalah sebagai berikut:
·  Kata-kata yang membentuk gabungan kata ditulis terpisah satu dengan lainnya.
·  Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai sebuah kata ditulis serangkai menjadi satu.
·  Kalau sebuah gabungan kata sekaligus diberi awalan dan akhiran maka harus ditulis serangkai sebagai sebuah kata.

4.    Penulisan kata ulang
Kata ulang adalah sebuah bentuk sebagai mana hasil dari mengulang sebuah kata dasar atau sebuah bentuk dasar. Kata ulang ditulis secara lengkap atau utuh dengan memberi garis penghubung.

5.    Penulisan kata ganti klitik
Kata ganti klitik adalah kata ganti yang disingkat seperti ku,kau,mu dan nya. Kata ganti bentuk klitik ini ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya.

6.    Penulisan kata depan
Kata depan adalah kata-kata yang biasanya menjadi penghubung antara predikat dengan object atau keterangan; dan lazimnya berada di depan sebuah kata benda. Misalnya kata-kata: di, ke, dari, pada, kepada, dengan, oleh, dalam, dan sebagainya. Kata depan dituliskan dengan aturan sebagai berikut:
·   Kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
·   Kata depan kepada dan daripada ditulis serangkaian
     karena dianggap sebagai sebuah kata.
·  Kata depan ke bersama kata yang mengikutinya apabila secara sintaktis berlaku sebagai kata kerja atau sekaligus mendapatkan awalan dan akhiran ditulis serangkai.

7.  Penulisan kata sandang
Kata sandang si dan sang  ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

8.  Penulisan Partikel
· Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
· Partikel pun yang berarti ‘juga’ ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
· Pada kata penghubung, seperti biarpun, meskipun, sungguhpun,  dan sekalipun, pun ditulis serangkai karena dianggap sebagai bagian dari sebuah kata.
·  Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

C.   Penulisan Singkatan Kata
Tidak sedikit jumlahnya kata-kata dalam bahasa indonesia yang penulisannya di singkat    dan ada juga yang sekaligus dengan pengucapan. Penyingkatan kata ini antara lain di   lakukan dengan cara:
1) Hanya menuliskan dan juga mengucapkan huruf pertama saja dari kata-kata yang di singkat itu.
2) Hanya menuliskan beberapa huruf saja dari kata atau kata-kata yang disingkat. Dalam hal berikut
3) Hanya menuliskan suku-suku kata tertentu saja dari kata-kata atau unsur kata-kata yang disingkat.


D.   Penulisan  Kata-Kata Berejaan Kembar
Dalam pemakaian bahasa sehari-hari banyak kita jumpai kata-kata yang ditulis dengan ejaan yang berbeda, sehingga sering menjadi pertanyaan mana yang benar penulisannya. Untuk mengetahui mana yang ditulis dengan ejaan yang benar kita harus melihatnya di dalam kamus. Tentu saja kamus yang baik, seperti Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh WJS Poerwadarminta atau Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

E.    Pemenggalan Kata
Kalau kita menulis, acapkali kita harus memenggal sebuah kata, misalnya karena pindah baris baru, atau untuk keperluan lain. Kita tidak boleh memenggal kata itu semaunya saja, melainkan harus mengikuti suatu aturan.
·  Kata Dasar
Kata Dasar dipenggal dengan aturan:
1) Kalau di tengah kata dasar ada dua huruf vokal, maka pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf  vokal itu.
2) Kalau di tengah kata dasar ada huruf konsonan di antara dua huruf  vokal, maka pemenggalan sebelum  huruf konsonan itu.
3) Kalau ditengah kata dasar ada dua buah huruf konsonan, maka penggalannya dilakukan  di antara kedua huruf konsonan itu.
4) Kalau ditengah kata kata dasar ada tiga huruf  konsonan atau lebih, maka pemenggalannya dilakukan di antara konsonan yang pertama,termasuk gabungan huruf konsonan, dengan huruf yang kedua.
                         
·  Kata Berimbuhan
1) Imbuhan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, dan partikel (seperti kah dan lah)  yang biasa ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dalam pemenggalan kata dipisahkan sebagai satu kesatuan.
2) Imbuhan sisipan, yaitu el,em dan er dalam pemenggalan tidak diperhitungkan sebagai satu kesatuan, melainkan sebagai bagian dari kata.

·   Kata Kompleks
Jika sebuah kata terdiri lebih dari sebuah unsur (Kata kompleks) dan salah satu unsur itu dapat bergabung  dengan unsur lain, maka pemenggalnya dilakukan dalam dua tahap, di antara unsur-unsur itu. Kedua,  di antara suku-suku kata pada masing-masing unsur, sesuai dengan kaidah yang di sebutkan di atas.

F.    Penulisan Kata Serapan
Kata serapan adalah  kata-kata yang berasal  dari bahasa asing  atau bahasa daerah, lalu digunakan dalam bahasa Indonesia.

G.   Penggunaan Tanda Baca
Tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan di dalam  bahasa tulis agar kalimat-kalimat yang kita tulis dapat dipahami orang persis seperti yang kita maksudkan. Tanda baca yang lazim digunakan adalah :
              Lambang                                 Nama
                    .                                        titik
                    ;                                        titik koma
                    ,                                        koma
                   ?                                       tanda tanya
                    !                                        tanda seru
                  ()                                      tanda kurung
                 “..”                                      tanda petik(kutip)


Contoh paragraf dengan tanda baca yang benar :

            Pada pagi hari yang cerah distasiun kereta api Kalibata, sekelompok pemuda berkumpul untuk melakukan perjalanan ke Bogor. Dodi yang sedang asyik bermain handphone; Yogi sedang makan bubur; Rudi mendengarkan musik tiba-tiba dikejutkan oleh suara Fajar.

Fajar :  "Hai bro!!"
Dodi :  "Hai bro, hai bro aja lu... udah jam berapa nih?? (sambil menunjuk jarum jam).
Fajar :  "Maaf Dod, alarm handphone gw ga bunyi hehehe".
Rudi  : "Yaudah ga usah berantem, mendingan kita siap-siap aja soalnya kereta sedikit lagi datang".

           Tak beberapa lama kemudian kereta api jurusan Bogor tiba, dengan bergegas mereka mengambil tas/perlengkapan mereka lalu naik ke dalam kereta. Setengah jam kemudian kereta berangkat sambil mengepulkan asapnya.



Sumber :
Arifin, E Zaenal dan S. Amran Tasai. Bahasa Indonesia : Sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Jakarta : Pustaka Mandiri. 2012